Memberikan apresiasi terhadap usaha anak merupakan salah satu cara sederhana untuk mendukung perkembangan karakter dan kepercayaan dirinya. Apresiasi tidak selalu berarti memberikan hadiah atau sesuatu yang mahal. Senyuman, pelukan, ucapan terima kasih, dan perhatian terhadap proses yang dilakukan anak juga merupakan bentuk penghargaan yang dapat memberikan makna besar bagi mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak menghadapi berbagai hal yang membutuhkan keberanian untuk mencoba. Ketika belajar mengikat tali sepatu, mengerjakan tugas sekolah, belajar membaca, membantu pekerjaan rumah, atau mencoba permainan baru, anak mungkin mengalami kesulitan dan melakukan kesalahan. Pada situasi seperti ini, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan hasil akhirnya, tetapi juga menghargai usaha yang sudah dilakukan.
Apresiasi terhadap usaha dapat membantu anak memahami bahwa proses sama pentingnya dengan hasil. Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai yang belum sesuai harapan setelah belajar dengan sungguh-sungguh, orang tua dapat mengatakan, “Kamu sudah berusaha belajar dengan baik. Mari kita cari tahu bagian mana yang masih sulit.” Kalimat sederhana tersebut membuat anak merasa didukung sekaligus termotivasi untuk mencoba kembali.
Apresiasi juga dapat diberikan ketika anak melakukan aktivitas sederhana di rumah. Saat anak selesai merapikan mainannya sendiri, orang tua dapat mengucapkan terima kasih. Ketika anak membantu membawa piring setelah makan, berikan penghargaan melalui kata-kata seperti, “Terima kasih sudah membantu.” Respons positif tersebut membantu anak memahami bahwa kontribusinya dihargai.
Namun, apresiasi sebaiknya diberikan secara spesifik dan tulus. Daripada hanya mengatakan “Kamu hebat”, orang tua dapat menjelaskan hal yang dihargai, seperti “Kamu sudah sabar menyelesaikan puzzle meskipun tadi beberapa kali salah.” Dengan begitu, anak mengetahui perilaku atau usaha apa yang membuat orang tua bangga.
Orang tua juga perlu menghindari membandingkan usaha anak dengan pencapaian anak lain. Setiap anak memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan tantangan yang berbeda. Fokuslah pada perkembangan anak dibandingkan dirinya sendiri. Misalnya, jika sebelumnya anak membutuhkan bantuan untuk membereskan kamar dan sekarang sudah mampu melakukannya sendiri, perubahan tersebut layak mendapatkan apresiasi.
Selain ucapan, apresiasi dapat diwujudkan melalui ibu dan anak waktu berkualitas. Orang tua dapat mengajak anak melakukan aktivitas yang mereka sukai setelah menyelesaikan tanggung jawabnya, seperti membaca buku, bermain bersama, atau memasak makanan sederhana.
Pada akhirnya, apresiasi yang diberikan secara konsisten dapat membantu anak merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan. Dengan menghargai usaha, bukan hanya hasil, orang tua membantu anak memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan setiap kemajuan kecil tetap memiliki nilai.